Proposal Cinta — Chapter 8

Oleh : Erlin Nurhata Dinata – X MP

Suasana kantin siang itu benar-benar riuh rendah! Lautan kepala memenuhi ruangan, semua berebut tempat untuk mengisi perut yang keroncongan. Kanaya dan Putri, tak terkecuali. Usai pelajaran Pak Saiful yang menguras tenaga, perut mereka pun berdemo keras meminta diisi. Mereka berhasil menerobos kerumunan, mata Kanaya menangkap Putri yang sedang mengamati stan-stan makanan dengan tatapan penuh minat.

“Put, ngapain? Ayo cari makan!” seru Kanaya, membuyarkan lamunan Putri. Setelah memesan dan menunggu pesanan datang, Kanaya menarik napas panjang. Ini dia saatnya.

“Put, gue suka cowok,” ujarnya, suara sedikit bergetar. Putri sontak tersedak, matanya melebar tak percaya.

“Hah? Apa? Ulang lagi! Serius?” Putri hampir terjungkal dari kursinya.

Kanaya mengangguk, pipinya memerah. “Aku suka cowok,” ulangnya, kali ini lebih pelan, sambil melirik Putri.

“Whatt?! Serius lo suka cowok? Syok! Modelan Kanaya suka cowok? Yang mana? Yang mana? Kepo deh! Yang lo taksir siapa, Nay?” Putri tak bisa diam, pertanyaan-pertanyaan berhamburan dari mulutnya.

“Shhtt! Rahasia, Put! Plisss… jangan heboh-heboh! Nanti kedengeran yang lain, malu dong!” Kanaya panik, menutup mulut Putri dengan tangannya.

“Aman, Nay! 100% aman banget! Emang suka sama siapaaa?” Putri masih penasaran setengah mati.

Tiba-tiba, segerombolan cowok datang dan duduk di meja tak jauh dari mereka. Kanaya menunjuk salah satu cowok itu, senyum mengembang di bibirnya.

“Yang pakai hoodie Erigo itu, Put!”

Putri mengerjap-ngerjapkan mata, tatapannya tak lepas dari cowok tersebut. “Serius? Yang itu? Ganteng banget! Eh, bukannya itu cowok yang nabrak kamu, Nay, di depan gedung G?”

Kanaya mengangguk. “Yap! Mas Kenen, anak perhotelan kelas XII. Dia partner sekretaris Maulid Nabi kemarin!”

“Ooo…” Putri berdecak kagum.

“Udah, jangan mandangin Mas Kenen terus! Emang ganteng sih, tapi… cemburu gue!” Kanaya sedikit cemberut.

“Yeee… siapa juga yang mandangin crush-mu, Nay? Aku mandangin yang rambutnya klimis itu! Aww… suka deh!” Putri tak bisa menyembunyikan kekagumannya.

“Oh, bilang dong!” Kanaya sedikit menggoda.

“Ganteng sih crush kamu, tapi tipeku yang rambut klimis-klimis,” Putri tersenyum nakal.

Pesanan mereka datang, menyelamatkan Kanaya dari rasa cemburu yang mulai menggejolak.

“Udah, Put, ayo makan!” ajaknya. Putri masih sesekali melirik cowok rambut klimis itu, sementara Kanaya hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum.