Proposal Cinta — Chapter 3

Oleh : Erlin Nurhata Dinata – X MP

Tiga bulan telah berlalu. Kanaya menjalankan tugasnya sebagai ketua kelas dengan baik, selalu ditemani Putri. Namun, siang itu, Kanaya asyik bermain HP, berbeda dengan Putri yang sedang mengerjakan PR Matematika-PR yang baru saja diberikan! Putri, dengan kecepatannya yang luar biasa, menyelesaikan PR tersebut. “Ayok, kantin!” ajaknya. “Mau ngapain?” sahut Kanaya malas. “Beli lah, ayok!” Putri menyeret pergelangan tangan Kanaya. Tanpa sadar, saat menyebrang dari Gedung G menuju kantin, bruk! Sebuah benturan keras terdengar. “Maaf, Mas, enggak sengaja,” ujar Kanaya, pipinya memerah.Ia menatap seorang pemuda tinggi besar dengan rambut sedikit panjang dan senyum yang menawan, meski sedikit jahil. Pemuda itu hanya tersenyum, “kalem² “katanya sebelum pergi. Kanaya tercengang.

Tak lama, suara pengeras suara bergema di seluruh koridor: “Mohon maaf mengganggu waktu nya kepada Seluruh ketua kelas diharapkan untuk berkumpul di ruang osis. Sekali lagi kepada seluruh Ketua kelas segera menuju Ruangan osis. Terima kasih.” Kanaya menoleh ke Putri. “Dipanggil,” bisik Putri. “Yaudah, sana,” lanjutnya. “Terus kamu gimana?” tanya Kanaya. “Gampang, cepet kok,” jawab Putri. “Yaudah, duluan, Put!” Kanaya pun pergi menuju ruang osis.

Ruangan besar itu penuh sesak. Ketua kelas dari berbagai jurusan memenuhi ruangan, ditambah lagi anggota OSIS. Udara terasa pengap, terlebih lagi ruangan yang penuh dan tanpa pendingin udara membuat Kanaya, yang baru saja tiba, langsung merasa gerah. “Jurusan apa kamu?” tanya seseorang di sampingnya.

“Akuntansi, kelas X,” jawab Kanaya sambil tersenyum.

“Sama dong, baru kelas X! Oh iya, kenalin, aku Fira, ini Klaudia, dan Anya. Kita semua dari X APHP (Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian),” kata Fira memperkenalkan teman-temannya.

Tak lama, tiga orang guru memasuki ruangan. Pak Qosim, dengan suara beratnya, memulai penjelasan. “Ehem, perkenalkan, saya Pak Qosim. Kalian semua dikumpulkan di sini untuk merencanakan acara Maulid Nabi. Selanjutnya, Bu Hanum akan menjelaskan detailnya.” Pak Qosim memberi kesempatan Bu Hanum untuk berbicara.

“Oke, teman-teman. Saya Bu Hanum. Osis membutuhkan bantuan kalian untuk acara Maulid Nabi karena kekurangan anggota. Pak Qosim, Bu Vegi, dan saya sepakat meminta bantuan seluruh ketua kelas untuk bekerja sama dengan Osis. Langsung saja, kita akan memilih struktur kepanitiaan. Kita mulai dari Ketua Acara, lalu diikuti posisi lainnya,” jelas Bu luluk.

Pemilihan kepanitiaan berlangsung alot. Perdebatan dan diskusi memenuhi ruangan. Setelah berjam-jam, akhirnya struktur kepanitiaan terbentuk. Bu luluk, dengan senyum ramah, mengumumkan hasil pemilihan. “Oke, teman-teman, struktur kepanitiaan Maulid Nabi tahun ini adalah…” Luluk menunjuk ke papan tulis yang telah terisi.

– Ketua: Farell (XI PH – Perhotelan)

– Wakil: Raga (X EKW – Ekowisata)

– Bendahara: Diysa (XI AKL -Akuntansi) dan Attara (XI MP A -Manajemen Perkantoran)

Sekretaris: Kanen (XII PH -Perhotelan) dan Kanaya (X Akl Akuntansi keuangan lembaga)

“Sekian. Semoga struktur ini dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Ketua dan wakil ketua divisi lainnya akan dipilih besok. Kemungkinan kita akan rapat lagi besok. Terima kasih atas partisipasinya. Silakan kembali ke kelas masing-masing,” kata Bu luluk.

Semua siswa meninggalkan ruangan. Saat memasuki kelas, Kanaya menggerutu, “Ngapain sih jadi sekretaris? Susah banget! Apalagi sama kakak kelas cowok pula… Eh, tapi… bukankah tadi yang tabrakan denganku di depan Gedung G…?” Kanaya terdiam sejenak, mengingat kejadian pagi tadi. “Ah, sudahlah,” gumamnya, lalu masuk kelas.