Oleh : Nila Krisna — Siswi SMK Cendika Bangsa
Kepanjen, 2 Agustus 2025 – Di tengah hiruk-pikuk aktivitas, Komunitas Jigo (Ngaji Jagongan) kembali menyalakan semangat belajar. Pertemuan rutin kali ini bukan sekadar kumpul biasa, melainkan sebuah simfoni ilmu yang merangkai pemahaman manajemen organisasi dan keunikan seni harpa mulut.
Kak Ardin, Direktur BSSC dan anggota AKI Bidang Pelestarian Lingkungan Hidup, membuka sesi dengan sebuah refleksi mendalam. “Organisasi bukanlah sekadar nama, melainkan wadah tumbuh bersama,” tegasnya. Beliau lantas membongkar rahasia di balik keberhasilan sebuah komunitas, yakni penerapan POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) dan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats).
Suasana kian hidup saat para peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka diberi tantangan untuk merancang sebuah kegiatan nyata, mengaplikasikan teori yang baru saja dipaparkan. Diskusi hangat dan presentasi yang interaktif menjadi bukti bahwa pemahaman tak hanya didapat dari mendengarkan, tetapi juga dari praktik dan kolaborasi.
Setelah otak diasah, kini panggung beralih ke Kak Bejo Sandy dari Harpa Mulut Indonesia. Sesi dibuka dengan lantunan harpa mulut yang menghanyutkan, membawa para peserta melintasi waktu dan budaya. Sambil memegang salah satu harpa, ia bertanya, “Seberapa besar cinta kalian kepada Indonesia?” Pertanyaan itu menjadi pemantik sebelum ia membawa mereka dalam perjalanan literasi yang memetakan persebaran harpa mulut di seluruh penjuru dunia hingga menjejakkan kaki di tanah air.

Di akhir pemaparannya, ia pun memberikan sebuah fakta yang mengejutkan, “Indonesia adalah negara yang menyumbang beragam harpa mulut paling banyak di dunia.” Fakta ini menjadi jawaban yang manis, menumbuhkan rasa bangga dan cinta yang jauh lebih dalam terhadap kekayaan budaya bangsa.
Dengan penuh cinta, ia menunjukkan berbagai jenis harpa mulut dari pelosok Nusantara yang ditempel langsung pada peta, seolah setiap alat musik itu memiliki kisahnya sendiri. Tak hanya bercerita, Kak Bejo Sandy juga membongkar rahasia di balik instrumen mungil tersebut. Ia menjelaskan setiap bagian, dari kepala hingga kaki, seakan mengenalkan anatomi sebuah kehidupan.
Puncaknya, ia dengan sabar mengajari para anggota Jigo cara membunyikan harpa mulut. Dari hembusan napas, getaran bibir, hingga sentuhan jemari, semua menjadi sebuah proses kreatif yang menyenangkan. Tawa dan nada-nada sumbang yang sesekali terdengar justru menambah kehangatan, menandakan bahwa setiap permulaan selalu diwarnai dengan semangat mencoba.
Pertemuan Jigo kali ini bukan hanya tentang mendengarkan dua narasumber hebat, melainkan tentang perpaduan antara logika manajemen dan keindahan seni. Ini adalah bukti bahwa komunitas Jigo terus tumbuh, merangkai harmoni antara ilmu, kreasi, dan kebersamaan.