Proposal Cinta — Chapter 11

Oleh : Erlin Nurhata Dinata — Siswi SMK Cendika Bangsa 

Kesibukan menumpuk, tapi Kanaya masih merasa hampa. “Mungkin bergabung dengan Dewan Ambalan bisa mengembangkan diri,” gumamnya, sebelum melangkah masuk kelas. “Kay, PR Bahasa Inggris udah? Aku belum!” panik Galuh.

Kanaya ikut histeris, “Astagfirullah, aku juga belum!”

Gabriel tertawa, “Ehem, kalian tahu siapa yang paling rajin di antara kita? Hahahaha…”

“PUTRI!” seru mereka bertiga serempak.

Putri tersenyum penuh percaya diri, “Apa? Namaku disebut-sebut pagi-pagi? Pasti mau pinjam buku Bahasa Inggrisku, ya? Hayo ngaku! Nggak ada acara nyontek pagi ini! Aku ajarin sampai bisa! Yuhuuu!” Ia melambaikan tangan, mengajak mereka ke mejanya.

Galuh, Kanaya, dan Gabriel hanya bisa pasrah.

Putri bersemangat, “Ayo teman-teman, belajar bareng! Waktu Pak Ubeb kan masih jam terakhir, masih banyak waktu! Mari belajar bersama Bu Putri yang imut ini!”

Wajah Galuh, Gabriel, dan Kanaya sudah muak melihat kepercayaan diri Putri yang kelewat tinggi. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka terpaksa menurut pada bocah tengil itu.