Aku, Bara Api yang Tak Pernah Padam

Oleh : Puput Lia Lestari — Siswi SMK Cendika Bangsa 

Ada nyala yang kupeluk dalam dada,

tak cukup besar — tetapi tetap membakar.

Nyalanya terpendam dalam diam,

menggerogoti dan mencabik-cabik jiwa yang dipaksa untuk tenang.

 

Aku bukan lagi tetesan air hujan di tengah sunyinya malam,

aku adalah bara api yang dipaksa untuk mati,

bahkan sebelum seseorang melihat aku seterang mentari.

Aku harus mati.

Tetap mati.

 

Mengapa aku dituntut untuk padam,

ketika orang-orang selalu menumpuk kayu dendam di atasnya,

hinga nyalaku semakin memerah.

Lelah. Tersiksa.

Terluka, meski tanpa darah.

 

Aku ingin berteriak,

tetapi mulutku tak lagi mampu bersuara.

Leherku tercekik,

seperti terjerat amarah yang tak kunjung menjadi tawa.

Aku tak akan bisa benar-benar padam,

dan nyalaku akan tetap membakarku dari dalam.