Oleh : Erlin Nurhata Dinata — XI MP
Jari-jari lentik Kanaya menari-nari di layar ponsel. Senyum mengembang saat ia selesai ‘men stalking Instagram sang crush, Kanen. Dua postingan terbaru cowok itu foto-foto pemandangan alam yang menakjubkan membuat jantungnya berdebar. Kanen, pencinta alam sejati. Namun, sesuatu mengganjal. Insting Kanaya, yang tajam bak pisau, menangkap kejanggalan. Lagu latar di postingan itu melodi sendu yang sarat akan kerinduan mengungkapkan kesedihan terpendam. Kanen tenggelam dalam masa lalunya. Siapakah yang membuatnya terbelenggu? Pikiran Kanaya berputar, mencoba memecahkan teka-teki itu. Namun, lamunannya buyar seketika oleh notifikasi Instagram. Sekolah mengunggah postingan baru. Degup jantungnya semakin cepat. Ia diterima menjadi anggota OSIS! Namanya terpampang paling atas. Kegembiraan membuncah. Ah, besok Senin. Saatnya istirahat. Ia tak kau bangun kesiangan.
Senin, hari yang dinantikan tiba. Hari pelantikan OSIS. Langkah Kanaya ringan menuju kelas, meletakkan tasnya. Belum sempat keluar, teriakan Putri memecah kesunyian. “Arghhhh, selamat sahabatku! Aku terharu banget!” Pelukan hangat Putri membungkusnya. “Thanks, Put!” balas Kanaya, tersenyum. Namun, suara pengeras suara menyela upacara bendera dimulai. Mereka bergegas menuju lapangan.
Upacara berlangsung khidmat. Setelahnya, pelantikan OSIS langsung dimulai. Para anggota baru, gagah berani, berbaris dari utara menuju kepala sekolah untuk penyematan pin. Suasana haru dan bangga memenuhi udara. Usai pelantikan, keriuhan memenuhi halaman sekolah. Kanaya mencari Putri. Tiba-tiba, sebuah tepukan di bahunya. “Selamat, Kay, atas pencapaianmu!” Seorang siswa, Rayhan, mengucapkan selamat sambil menjabat tangannya. Kanaya, sedikit gugup, membalas jabat tangan itu. “Makasih, Mas Ray,” ujarnya, tersenyum kaku. Rayhan membalas dengan senyum tipis. Putri datang, mengajaknya kembali ke kelas. Kanaya pamit pada Rayhan.
Di kejauhan, sepasang mata mengamati Ada yang berbeda kali ini. Melihat kedekatan Kanaya dan Rayhan, menimbulkan perasaan yang ganjil di hatinya. Namun, ia hanya mampu mengamati dari jauh, perasaan itu sulit di artikan.